Skip Navigation LinksPLTA-KETENGER-WARISAN-HEBAT-UNTUK-INDONESIA-

 PLTA KETENGER WARISAN HEBAT UNTUK INDONESIA

Unit Pembangkitan Mrica atau biasa disingkat UP Mrica, merupakan Unit Pembangkit yang berada di Jawa Tengah, dengan total kapasitas terpasang mencapai 322 MW dengan ditopang oleh 16 PLTA yang terdiri dari 30 mesin. Sebagai salah satu Unit Pembangkit di PT Indonesia Power, UP Mrica berperan penting dalam menyuplai listrik pada sistem Jawa, Madura, dan Bali (JAMALI). Adapun 8 Sub Unit yang dimaksud adalah antara lain; PLTA PB Soedirman (180 MW), PLTA Wadaslintang (18 MW), PLTA Klambu (1.1MW), PLTA Garung (26.4 MW), PLTA Timo (12 MW), PLTA Jelok (20.48 MW), PLTA Sidorejo (1.4 MW), PLTA Kedungombo (22.5 MW), PLTA Sempor (1 MW), PLTA Wonogiri (12.4 MW), PLTM Siteki (1.2 MW), PLTA Pejengkolan (1.4 MW), dan PLTA Katenger (8.5 MW), PLTA Plumbungan (1.6 MW), PLTA Wonogiri (12.4 MW), PLTA Tulis (12.8 MW).

PLTA Ketenger memanfaatkan aliran Sungai Banjaran dengan luas lahan mencapai 4 hektar yang berada di Desa Ketenger, Kecamatan Baturaden, Purwokerto.      PLTA Ketenger terdiri dari 2 unit berkapasitas masing-masing 3.5 MW, 1 unit kapasitas 1 MW, dan 1 unit berkapasitas 0.5 MW. Sebagai pembangkit ramah lingkungan, PLTA Katenger tidak menghasilkan emisi gas buang, abu maupun limbah, PLTA memanfaatkan energi potensial (tinggi jatuh muka air) untuk menggerakan turbin dalam menghasilkan energy listrik. PLTA ini merupakan pembangkit yang efisien karena memiliki kelebihan berupa rendah biaya operasi dan maintenance.

PLTA Ketenger menjadi salah satu PLTA tertua yang dimiliki UP Mrica karena dibangun pada era penjajahan Belanda dimana masa pembangunannya dimulai pada tahun 1932. Dalam masa pembangunan PLTA Ketenger telah disurvei oleh pemerintahan Hindia Belanda, sedangkan pelaksanaan pembangunannya dilaksanakan pada tahun 1935 dan selesai pada tahun 1939 oleh kontraktor Hindia Belanda NV. ANIEM 9 (N.V. Algemeene Nederlandsch Indische Electriciteit Maatchappy) untuk mesin unit 1 dan 2 dengan daya terpasang masing – masing 3,5 MW.

Tahun 1998 – 1999 di bangun kembali (renovasi) untuk mesin 3 dengan daya terpasang 1 MW oleh kontraktor PT. Dirga Bratasena Engenering Medan. Selanjutnya pada tahun 2008 dibangun kembali mesin 4 dengan daya terpasang 0,5 MW sehingga total daya terpasang adalah 8,5 MW.

Untuk pengoptimalan kinerja Unit Pembangkit, maka diterapkan system Manajemen Aset pembangkit yang mengacu pada best practice perusahaan pembangkit kelas dunia. Model implementasi Manajemen Aset di PT Indonesia Power mencakup semua proses dan mekanisme tata kelola pembangkit baik proses utama operasi dan pemeliharaan pembangkit maupun proses pendukung lainnya yang diintegrasikan dengan proses utama sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Sasaran implementasi Manajemen Aset bukan semata ditujukan untuk mengelola asset, namun juga merupakan upaya peningkatan total kinerja perusahaan.

Adapun pilar utama proses operasional pembangkit yaitu; 1. Perencanaan Kerja & Kontrol; 2. Manajemen Reliability; 3. Manajemen Supply Chain; 4. Manajemen Overhaul; 5. Manajemen Efisiensi; 6. Manajemen Operasi. Keenam pilar tersebut merupakan proses utama operasional pembangkit dalam meningkatkan kesiapan pembangkit, keandalan dan efisiensi pembangkit. Secara kolaboratif mengintegrasikan Manajemen Aset pembangkit dengan semua program yang telah berjalan selaras dengan system manajemen lainnya, yaitu; 1. Manajemen Human Capital; 2. Manajemen Safety Health & Environment; 3. Manajemen Risiko; 4. Manajemen Sistem Informasi; 5. Manajemen Kinerja. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan koordinasi antar bidang dengan melakukan praktek terbaik dalam bidangnya masing-masing.

Untuk terus berupaya menjaga debit saluran air sungai tetep terjaga, PT Indonesia Power mengelola program pemberdayaan masyarakat atau Corporate Social Responsibilty (CSR) dalam bentuk Sekolah Lapangan berbasis pemberdayaan masyarakat yang berdampak pada konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Waduk. Program Sekolah Lapangan ini dilatarbelakangi oleh rendahnya edukasi dan kesadaran masyarakat terhadap konservasi lingkungan, karena pemanfaatan lahan pertanian yang berpotensi pada kerusakan lingkungan khususnya erosi.

Melalui pengelolaan konservasi di hulu DAS secara terpadu dan berkelanjutan, didukung juga dengan pemberdayaan dan kemandirian masyarakat, program Sekolah Lapangan ini memiliki tujuan guna mengurangi tingkat erosi pada DAS yang memberikan kontribusi terhadap sedimentasi. Upaya ini dilakukan untuk menjamin keberlangsungan dan keberlanjutan operasional Pembangkit, juga memastikan keandalan unit dalam memproduksi listrik bagi masyarakat sehingga dapat menjadi Heritage untuk era Millennial.

 

Contact Person:

Supriyadi

SPS Keamanan dan Humas UP Mrica

supriyadi.mrc@indonesiapower.co.id

HP:  08122701911

Keterangan Pers Lainnya

  • PLTA RAJAMANDALA SIAP SUPLAI LISTRIK JAWA-BALI

  • PT INDONESIA POWER DAN PEMPROV BABEL SEPAKATI PENGEMBANGAN SUMBER DAYA ALAM DAN SUMBER ENERGI TERBARUKAN

  • LAGI, INDONESIA POWER LAKUKAN AKSI NYATA DALAM PROGRAM PELESTARIAN LINGKUNGAN