Skip Navigation LinksPERTAMA-DI-INDONESIA,-PT-INDONESIA-POWER-MELAKUKAN-UJICOBA-CO-FIRING-UNTUK-KURANGI-PENGGUNAAN-BATU-BARA-DI-PLTU

 PERTAMA DI INDONESIA, PT INDONESIA POWER MELAKUKAN UJICOBA CO-FIRING UNTUK KURANGI PENGGUNAAN BATU BARA DI PLTU

LOMBOK – PT Indonesia Power bersama PT PLN (Persero) PUSLITBANG, PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat dan Sekolah Tinggi Teknik-PLN (STT PLN) lakukan ujicoba co-firing Refused Derived Fuel (RDF) dengan batubara di PLTU Jeranjang. Metode ini adalah alternatif untuk mengurangi pemakaian batubara dengan menerapkan metode co-firing, dengan cara mensubstitusi sebagian batubara dengan bahan bakar renewable pada ratio tertentu dengan tetap memperhatikan kualitas bahan bakar sesuai kebutuhan.


Saat ini PLTU Batubara masih mendominasi bauran energi nasional, berdasarkan data kementrian ESDM, total kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik nasional adalah 60,78 GW tahun 2017 dengan persentase terbesar adalah PLTU berbahan bakar batubara yaitu sebesar 58.3%. Untuk mengantisipasi menipisnya supply atau ketersediaan batu bara, sehingga perlu adanya langkah konkrit dalam mereduksi pemakaian bahan bakar tersebut. “ Metode Co-firing ini sendiri telah umum dilakukan oleh sejumlah PLTU batubara di Eropa dan Amerika. Di Indonesia sendiri teknologi ini masih jarang ditemui, padahal potensi adanya bahan bakar lain yang dapat digunakan sebagai bahan substitusi batubara cukup melimpah, seperti sampah atau yang dikenal dengan konsep Waste to Energy (WTE) yaitu merecoveri energi dari sampah melalui pembakaran langsung (insinerasi, pirolisis, dan gasifikasi) atau dengan produksi bahan bakar dalam bentuk metan, hidrogen, dan bahan bakar sintetik lainnya, seperti anaerobic digestion, mechanical biological treatment, dan Refused Derived Fuel (RDF)” ungkap Sekretaris Perusahaan Indonesia Power Igan Subawa Putra.

“Untuk itu dengan bangga kami menginisiasi untuk melakukan Ujicoba co-firing RDF dengan batubara di PLTU Jeranjang dengan persentase pellet RDF yang digunakan sampai dengan 5% dari kebutuhan bahan bakar PLTU Jeranjang, dilakukan pada tanggal 19-20 Februari 2019 pada beban 25 MW dengan tahapan hari pertama uji operasional dan hari kedua uji stabilitas selama 5 jam. Hasil ujicoba menunjukan hasil yang positif dimana sebagian besar parameter operasi dalam batas aman dan emisi gas buang yang didapat juga dalam batas normal, ini adalah yang pertama di Indonesia” imbuh Igan Subawa Putra. Seperti yang kita ketahui sampah merupakan material yang jumlahnya cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Sampah domestik memiliki nilai kalor sekitar 1.000 kkal/kg, lebih rendah dibandingkan jerami padi (2.400 kkal/kg) atau sekam (3.000 kkal/kg). Nilai kalori sampah dapat ditingkatkan dengan cara pemprosesan menjadi pellet RDF dengan memanfaatkan bioactivator sehingga bau sampah akan hilang serta volume sampah akan mengendap dan lapuk hingga 50%. Bioproduk tersebut dapat meningkatkan kualitas thermal sampai dengan 3800 kcal/kg. Untuk menjaga kualitas RDF dibutuhkan pengolahan pendahuluan (pre-treatment) sebelum dimanfaatkan dalam sistem WTE, pengolahan pendahuluan dapat berupa pengeringan secara alamiah maupun mekanik, pemanasan awal untuk menguapkan air yang ikut terbawa bersama sampah, dan pemotongan untuk mempermudah pembakaran. Pellet RDF juga mengandung lebih sedikit sulfur jika dibandingkan dengan batubara. Oleh karena itu, co-firing batubara dan pelet berpotensi menurunkan emisi CO2, NOx dan SOx.

Pellet RDF ini dapat diaplikasikan untuk gasifier dan substitusi bahan bakar pada PLTU batubara tipe stoker maupun Circulating Fluidizing Bed (CFB). Komposisi pellet RDF sendiri terbuat dari campuran sampah organik dan non organik (non PVC) dengan perbandingan 95% : 5%. PLTU Jeranjang merupakan PLTU tipe CFB yang akan dilakukan ujicoba penerapan co-firing, sedangkan bahan bakar substitusi yang digunakan menggunakan pellet RDF produk Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) yang ada di Kabupaten Klungkung Bali. Sebelum digunakan sebagai substitusi, dilakukan analisa kualitas baik analisa proximate maupun analisa ultimate. Untuk memastikan seberapa besar risiko slagging akibat penggunaan pelet RDF, dilakukan pengujian Ash Fusion Temperature (AFT) yang menunjukan nilai indeks slagging untuk pelet RDF pada kondisi reduksi sebesar 1395 oC dan pada kondisi oksidasi 1344 oC, sehingga potensi slagging cenderung rendah. Selain itu ukuran pellet juga harus disesuaikan dengan berat jenis batubara yang masuk ke boiler, sehingga pelet dapat terbakar habis dan tidak carry over ke tube boiler.


Contact Person:
IGAN SUBAWA PUTRA
SEKRETARIS PERUSAHAAN PT INDONESIA POWER
subawa.putra@indonesiapower.co.id
HP: 08123887780


Keterangan Pers Lainnya

  • INDONESIA POWER WUJUDKAN KOMITMEN NYATA PERUSAHAAN TERHADAP UPAYA PENGENDALIAN PENCEMARAN LINGKUNGAN

  • PT INDONESIA POWER DAN PEMKAB KUBU RAYA SEPAKAT IMPLEMENTASIKAN PROGRAM IP PINTAR

  • PLTA RAJAMANDALA SIAP SUPLAI LISTRIK JAWA-BALI